“Peran dan Nilai Guru Penggerak Untuk Mewujudkan Siswa Merdeka yang Berlandaskan Pancasila, UUD 1945, dan NKRI”
Sintesis
Pengetahuan
“Peran dan Nilai
Guru Penggerak Untuk Mewujudkan
Siswa Merdeka
yang Berlandaskan Pancasila, UUD 1945, dan NKRI”
Oleh : Putu Eka Juliana Jaya, S.E., M.Si
Modul : 1.2
Kelompok : 3
Fasilitator :
Bapak Drs. Yuli Cahyono, M.Pd
Pendamping : Bapak I Komang Witarsa, M.Pd
Tanggal : 9-11-2020
Para
Calon Guru Penggerak, pada modul 1.2 ini, diajak menjelajahi nilai dan peran
guru terkait penumbuhan dan pelestarian budaya positif. Guru juga diajak
menelusuri dirinya sendiri sebagai manusia dan pendidk. Diawali dengan
stimulasi untuk pemahaman proses munculnya pikiran dan emosi yang merupakan
satu keatuan aspek intrinsik dan ekstrinsik dalam konteks lingkungan
pembelajaran. Sangat menyenangkan dan menantang pada modul ini guru diajak
mengeksplorasi perubahan nyata di lingkungan masing-masing.
Dunia
kini sudah semakin tanpa batas, teknologi telah berhasil menghilangkan jarak.
Pertukaran budaya baik yang positif maupun negatif kini menjadi sukar terawasi
dan tanpa filter. Filter tersebut diharapkan dapat ditumbuhkan sejak dini dalam
setiap diri manusia Indonesia agar budayanya tidak tergerus oleh budaya lain
yang lebih agresif melakukan penetrasi. Salah satunya yang terpenting adalah
senantiasa menjadikan Pancasila, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia
sebagai landasan dan pedoman dalam setiap proses belajar. Oleh karena itu,
sebagai pendidik, selayaknya untuk berpikir kembali mengenai makna dan tujuan
pendidikan nasional Indonesia.
Sangat
menarik mempelajari trapesium usia, teori gunung es, video kerusuhan agama di
Maluku, serta teori kerja otak yang laksana eskalator. Tak kalah menariknya
mengikuti ruang kolaborasi, elaborasi konsep, dan refleksi terbimbing. Semua
pembelajaran itu memberikan wawasan baru bagi Calon Guru Penggerak tentang
pentingnya memahami motivasi intrinsik dan perbedaan setiap murid. Mengerti
bahwa pada dasarnya setiap murid adalah unik dan memerlukan sentuhan dan cara
khusus untuk mendidiknya. Dalam teori Gunung Es Psikologi Sigmund Freud mengatakan bahwa perilaku ditentukan oleh alam bawah sadar yang berisi insting atau
naluri alamiah dan dorongan biologis manusia (Sigmund Freud; 1987). Daniel
Kahneman menulis tentang bagaimana membuat keputusan yang lebih tepat dengan
memahami cara kerja otak dalam mengambil keputusan. Semua pembelajaran itu
menggugah guru untuk berbuat lebih bermakna bagi muridnya. Apabila setiap murid
sudah dididik dengan pendekatan yang bermakna, maka setiap anak akan tumbuh
dengan rasa percaya diri sesuai kodratnya. Setiap anak akan mencapai harapan
dan cita-citanya suatu hari nanti di masa depan. Inilah kebanggan dan kepuasan
setiap guru; menghantarkan anak-anak didiknya menuju kehidupan bermakna,
selamat, dan berbahagia.
Seluruh dunia mengalami fenomena
pandemi COVID-19 sejak akhir tahun 2019, tepatnya permulaan tahun 2020. Hal ini
berdampak pula di segala sektor dan lini di Indonesia, termasuk seluruh
sekolah. Secara fisik sekolah dan kelas diadakan dari jauh, namun sebetulnya
jika dipikirkan ternyata kelas-kelas ini justru mendekat dan masuk ke rumah-rumah
murid selama masa pandemi ini. Pandemi membukakan mata bahwa guru punya peran
yang besar dalam proses belajar murid-muridnya, sekaligus menyingkapkan bahwa
orangtua pun punya peran yang tak terelakkan dalam pendidikan anak-anaknya di
rumah. Hal itu membuat semua stake
holders kembali percaya bahwa gotong-royong dalam pendidikan adalah hal
yang tidak bisa ditawar lagi. Dari pengalaman tersebut, stake holders termsuk guru disadarkan kembali bahwa pendidikan
adalah suatu hal yang sifatnya individual sekaligus komunal yang tak
terpisahkan. Murid di kelas-kelas adalah bagian dari sebuah komunitas di rumah,
di masyarakat, dan di lingkungan. Mempertimbangkan kesalingterhubungan dan
kerumitan tersebut, maka sebagai pendidik mau tidak mau guru harus menilik kembali
apakah nilai-nilai diri guru telah selaras dengan tuntutan zaman dan alam yang
seperti itu.
Inilah
yang sudah dipelajari oleh Calon Guru Penggerak pada modul 1.2 ini, di mana
guru diajak masuk ke dalam dan menelusuri diri sendiri sebagai manusia sekaligus
pendidik, kemudian mengakui bahwa setiap orang adalah pribadi-pribadi istimewa
yang unik. Modul ini mengajak guru menikmati proses munculnya pikiran dan emosi
sebagai gambaran aspek intrinsik yang perlu dipertimbangkan sebagai satu
kesatuan bersama aspek ekstrinsik dalam konteks lingkungan pembelajaran. Guru
juga diajak mengeksplorasi dan berkolaborasi merencanakan perubahan nyata di
lingkungan masing-masing. Ada secercah harapan, setelah mengalami dan berproses
sepanjang materi ini, para Calon Guru Penggerak dapat menemukan jati diri
sebagai Guru Penggerak. Lumpkin (2008), menyatakan bahwa guru dengan karakter
baik mengajarkan murid mereka tentang bagaimana keputusan dibuat melalui proses
pertimbangan moral. Guru ini membantu muridnya memahami nilai-nilai kebaikan
dalam diri mereka sendiri, kemudian mereka memercayainya sebagai bagian yang
tak terpisahkan dari siapa mereka, hingga kemudian mereka terus menghidupinya.
Guru dengan karakter yang baik melestarikan nilai-nilai kebaikan di tengah
masyarakat melalui murid-murid mereka.
Seperti
yang pernah ditulis sebelumnya, pendidikan adalah tuntutan bagi seluruh
kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai
anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Sedangkan pengajaran adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau
pengetahuan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin (Dewantara I, 2004).
Namun pola yang ada dewasa ini masih cenderung 1 arah, belum berfokus &
berpusat pada murid, antar guru masih banyak yang belum kolaborasi. Maka kami
perlu mempertajam keterampilan kepemimpinan, menggali lebih dalam tentang jati
diri kami, mengasah berbagai keterampilan manajemen sekolah serta memperkaya
dan menunjang sumber daya manusia yang berkualitas dan mumpuni (Yuli Cahyono,
2020).
Mempelajari pemikiran filosofis Ki Hajar Dewantara
merupakan fokus dari pelatihan calon guru penggerak angkatan pertama kali ini.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan dan pengajaran jelas
pemisahannya. Ki Hadjar
membedakan antara “Pengajaran” dan “Pendidikan”. “Pendidikan” adalah tuntutan bagi seluruh kekuatan kodrat yang ada
pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Sedangkan “Pengajaran” adalah “Pendidikan” dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan agar
bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin (Dewantara I, 2004). Di samping itu, “Pengajaran” yang tidak berdasarkan semangat kebudayaan dan hanya
mengutamakan intelektualisme dan individualisme yang memisahkan satu orang
dengan orang lain hanya akan menghilangkan rasa keluarga dalam masyarakat di seluruh
Indonesia yang sesungguhnya dan menjadi pertalian suci dan kuat serta menjadi
dasar yang kokoh untuk mengadakan hidup tertib dan damai (Dewantara I , 2004).
Menurut Ki Hajar Dewantara; pengajaran dan pendidikan
Nasional harus selaras dengan penghidupan dan kehidupan bangsa agar semangat
cinta bangsa dan tanah air terpelihara. Dalam hal ini, Ki Hajar Dewantara
menekankan agar Pendidikan
memperhatikan : [1] Kodrat Alam, [2] Kemerdekaan, [3] Kemanusiaan, [4]
Kebudayaan, [5] Kebangsaan. Intisarinya adalah agar terwujud
pendidikan yang memerdekakan siswa (Saksono, Gatut Ign, 2010) Dihubungkan dengan konteks pendidikan di Indonesia
saat ini, termasuk juga di SMP Negeri 1 Denpasar, sebenarnya secara teori &
kebijakan sudah relevan dan diadopsi, namun belum secara optimal dalam
aplikasinya. Mengapa? Karena pola yang ada dewasa ini masih cenderung 1 arah, belum
berfokus dan berpusat pada murid, antar guru masih banyak yang belum berkolaborasi. Maka dari itu memang perlu Program
Guru
Penggerak seperti ini untuk melahirkan guru penggerak, yang
siap menjadi pemimpin dan menjadi agen perubahan pada transformasi Sisdiknas
secara lebih utuh.
Pada pelatihan Program Guru Penggerak para Calon Guru
Penggerak diajak untuk membahas lebih dalam tentang pemikiran filosofis Ki
Hajar
Dewantara, mendemonstasikan konsep pemikiran tersebut, yang
berguna bagi Calon Guru Penggerak untuk mempertajam keterampilan kepemimpinan,
menggali lebih dalam tentang jati diri kami, mengasah berbagai keterampilan
manajemen sekolah serta memperkaya dan menunjang sumber daya manusia yang
berkualitas dan mumpuni. “Menuju Manusia Merdeka” yang berjiwa
Pancasila berlandaskan UUD 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia
(Kemdikbud RI; 2020, Setkab RI; 2020). Refleksi filosofi pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara
menjadi titik awal Calon Guru Penggerak menjadi agen perubahan dalam transformasi pendidikan di sekolah. Semoga hal ini dapat terwujud
demi tercapainya upaya mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia, menciptakan
sumber daya manusia unggul yang mumpuni untuk berkiprah di dunia global, dengan
tetap mengedepankan Pancasila dan kearifan budaya lokal maupun nasional yang melekat
sebagai jati diri
bangsa.
Rancangan tindakan
|
|
|
|
|
|
|
|
Rancangan Tindakan Untuk Aksi Nyata |
|
||
|
|
|
|||
|
|
Judul
Modul |
REFLEKSI
NILAI DAN PERAN CALON GURU PENGGERAK |
|
|
|
|
Nama
Peserta |
PUTU EKA
JULIANA JAYA (SMP Negeri 1 Denpasar) |
|
|
|
|
|
|||
|
|
Latar
Belakang |
|
||
|
|
Belum
terwujudnya Merdeka Belajar sesuai pemikiran KHD dan Konsep Nilai
Kemanusiaan. |
Lini masa
tindakan yang akan dilakukan |
|
|
|
|
Belum
maksimal terwujud peran nyata Guru dalam memanusiakan hubungan. |
Tahap
persiapan: 2 hari |
|
|
|
|
Perlu
dikembangkan pola hubungan yang lebih optimal yang mencerminkan nilai dan
peran Guru berdasarkan Pancasila, UUD 1945, NKRI. |
Tahap
pelaksanaan (pengumpulan data dan informasi: 5 hari |
|
|
|
|
Tujuan |
Tahap
pengolahan data dan wawancara (2 hari) |
|
|
|
|
Terwujudnya
Merdeka Belajar sesuai pemikiran KHD dan Konsep Nilai Kemanusiaan. |
Tahap
evaluiasi & pembuatan laporan: 1 hari |
|
|
|
|
Terwujud
peran nyata Guru dalam memanusiakan hubungan. |
Dukungan
yang dibutuhkan |
|
|
|
|
Terwujudnya
sosialisasi dan penerapan pola hubungan yang makin optimal yang mencerminkan
nilai dan peran Guru berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan NKRI. |
Kuota
internet dan jaringan internet; disediakan oleh sekolah dan diberikan bantuan
oleh Kemdikbud |
|
|
|
|
Tolok Ulur |
Laptop, computer, printer; disediakan oleh sekolah. |
|
|
|
|
Merdeka
Belajar sesuai pemikiran KHD dan Konsep Nilai Kemanusiaan dapat terlaksana. |
Handphone; milik pribadi |
|
|
|
|
Peran
nyata Guru dalam memanusiakan hubungan dapat optimal dicapai. |
Aplikasi Microsoft
Office; disediakan oleh sekolah dan milik pribadi |
|
|
|
|
Sosialisasi
dan penerapan pola hubungan yang makin optimal yang mencerminkan nilai dan
peran Guru berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan NKRI dapat terjadi saat pembelajaran
dengan optimal. |
Aplikasi Google
Meeting dan Google Classroom; disediakan oleh sekolah dan milik
pribadi |
|
|
|
|
|
|
|
|
Referensi:
Freud, Sigmund. Memperkenalkan Psikoanalisa. 1987.
Jakarta:Gramedia
Goyette, K. (2019). The
non-obvious guide to emotional intelligence (You can actually use). Idea Press
Publishing, USA.
Greenaway, R. (2018,
November 5). The four F's of active reviewing. The University of Edinburgh.
Retrieved from
https://www.ed.ac.uk/reflection/reflectors-toolkit/reflecting-on-experience/four-f
Hajar, Ki Dewantara, Karya Ki Hajar Dewantara Bagian
Pertama: Pendidikan, (Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 2004)
Kahneman, Daniel, Thinking,
Fast and Slow, 2011, New York, Farrar, Straus and Giroux
Kemdikbud RI, 2020; https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/10/kemendikbud-selenggarakan-program-pendidikan-bagi-calon-guru-penggerak
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2019).
Penjelasan uji publik model kompetensi guru. Kemdikbud. Retrieved June 6, 2020
from
https://kompetensi.kemdikbud.go.id/assets/pdf/Penjelasan-Uji-Publik-Model-Kompetensi-Guru.pdfLumpkin,
A. (2008). Teachers as role models: Teaching character and moral virtues.
Journal of Physical Education, Recreation and Dance, (JOPERD)
Sutiyono, 2010, “Pendidikan Seni Sebagai Basis
Pendidikan Karakter Multikulturalis” dalam Cakrawala Pendidikan Jurnal Ilmiah
Pendidikan, No. XXIX. Edisi Khusus Dies Natalis UNY, Ikatan Sarjana Pendidikan
Indonesia D.I. Yogyakarta.
Saksono, Gatut Ign, 2010, Pendidikan Yang Memerdekakan
Siswa, Diandra Primamitra Media, Yogyakarta.
Setkab RI, 2020; https://setkab.go.id/kemendikbud-luncurkan-merdeka-belajar-5-guru-penggerak-sebagai-pendorong-transformasi-pendidikan/
Trilling, B. and Fadel, C, 2009; 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times, San
Francisco, Calif., Jossey-Bass/John Wiley & Sons, Inc.
Yuli Cahyono, 2020; http://lppks.kemdikbud.go.id/id/kabar/diklat-penguatan-kepala-sekolah-pks-cks-cps-dan-pgp
===========wawa*smpn1denpasar===========
Komentar
Posting Komentar